Genealogi, Wacana Dominan dan Model Penafsiran Bidadari Dalam Al-Qur’an

  • Mida Hardianti UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
  • Inayah Rohmaniyah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Keywords: Bidadari Surga, Dominasi Tafsir, Kuasa Pengetahuan, Pergeseran, Model Penafsiran.

Abstract

 

Ayat-ayat eskatologis yang pada umumnya dianggap telah mapan dan cukup diimani saja ternyata memunculkan berbagai penafsiran yang terkesan diskriminatif dalam perspektif gender. Penafsiran tentang bidadari surga, misalnya, kental dengan nuansa imajinasi maskulin dan pandangan yang menempatkan perempuan sebagai obyek seksual. Bidadari dikaitkan dengan ketubuhan perempuan sebagai sumber godaan dan obyek seksual. Hal tersebut kontradiktif dengan konsep tauhid, hakikat kenikmatan surga dan balasan yang adil bagi manusia baik laki-laki maupun perempuan. Tulisan ini bertujuan untuk mengungkap genealogi dan model penafsiran ayat-ayat tentang bidadari. Selain itu, akan diungkap perubahan makna dan pemaknaan bidadari surga serta berbagai atribut yang menunjukkan upaya pelanggengan kuasa pengetahuan dari masa ke masa.

Tulisan ini merupakan hasil penelitian kualitatif yang bersifat kepustakaan. Sumber data primer terdiri dari penafsiran ayat-ayat bidadari yang terdapat dalam beberapa kitab tafsir. Sumber sekunder berupa literatur yang membahas tentang penafsiran istilah bidadari, genealogi, dan berbagai literatur yang terkait dalam bentuk buku, jurnal maupun kitab. Teknik pengumpulan data melalui penelusuran tafsir-tafsir, pemilihan dan klasifikasi. Analisis data dilakukan dengan melihat kontinuitas dan diskontinuitas pemaknaan bidadari dari masa ke masa, melihat perbedaan penafsiran dan mencari sebab perbedaan tersebut melalui konsep marginalisasi dan normalisasi. Teori yang digunakan adalah teori genealogi Michel Foucault dan klasifikasi tafsir perempuan model  Amina Wadud.

Hasil penelitian menemukan bahwa penafsiran konsep bidadari surga dalam kitab-kitab tafsir klasik dimaknai sebagai perempuan cantik yang disediakan hanya untuk laki-laki dalam konteks ayat yang diturunkan khusus untuk masyarakat Arab pra Islam. Penafsiran ini mengalami perubahan seiring dengan perkembangan tafsir, yaitu menjadi sebuah simbol kenikmatan surga yang bisa didapatkan oleh seluruh penduduk surga baik laki-laki maupun perempuan. Perubahan konsep bidadari tersebut mulai terlihat pada tafsir era  pertengahan hingga kontemporer seperti tafsir Sayyid Qutb dan Quraish Shihab, kemudian dilengkapi oleh sarjana muslim yang mengusung kesetaraan gender seperti Amina Wadud dan Faqihuddin Abdul Kodir. Diskontinuitas penafsiran konsep bidadari pada setiap tafsir memiliki wacana diskursif masing-masing yang tentunya memiliki kuasa pengetahuan tersendiri yang dibangun secara sistematis melalui proses marginalisasi dan normalisasi.  Marginalisasi ditemukan pada metode penafsiran, imajinasi dan pengalaman perempuan. Proses tersebut didukung dengan norma untuk melanggengkan kuasa pengetahuan seperti tradisi kritik sanad tanpa kritik matan, penafsiran dengan syair Jahiliah, dan generalisasi makna mufradat istilah bidadari. Sedangkan penafsiran konsep bidadari yang bergeser dari arus mainstream ditandai dengan peminggiran metode tekstual, bias-bias patriarki dalam penafsiran. Penafsiran juga dilengkapi dengan norma penafsiran model holistic dan penafsiran berbasis keadilan dan kesetaraan. Penafsiran konsep bidadari dapat dikelompokkan kepada  tiga model penafsiran yaitu penafsiran model tradisional, reaktif dan holistik.

Published
2021-01-06
How to Cite
Hardianti, M., & Rohmaniyah, I. (2021). Genealogi, Wacana Dominan dan Model Penafsiran Bidadari Dalam Al-Qur’an. Ushuluddin International Conference (USICON), 4. Retrieved from http://conference.uin-suka.ac.id/index.php/USICON/article/view/307