Wacana Diskursif dan Reinterpretasi Penafsiran Seksualitas Perempuan dalam Qs. Yusuf [12]: 23-31

  • Izza Royyani UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
  • Inayah Rohmaniyah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Keywords: Penafsiran, Qs. Yusuf [12]:23-31, Seksualitas, Kuasa Pengetahuan, Fungsi Interpretasi.

Abstract

 

Interpretasi terhadap Qs. Yusuf [12]: 23-31 tentang seksualitas perempuan diwarnai konstruksi penafsiran yang terkesan diskriminatif dalam perspektif gender. Penafsiran kata ra>wada (menggoda), hamm (berkeinginan untuk melakukan tindakan seksual) dan innahu min kaidikunna inna kaidakunna ‘adzi>m oleh beberapa penafsir seperti al-Zamakhsyari, al-Maraghi dan Hamka disebut sebagai kodrat perempuan. Konstruksi penafsiran seperti ini secara normative tidak sejalan dengan keberadaan surah Yusuf yang dianggap memuat kisah terbaik dan penuh pesan moral. Tulisan ini bertujuan untuk mengungkap wacana diskursif seksualitas perempuan dalam penafsiran yang terkesan bias gender tersebut. Tulisan ini juga memberikan tawaran interpretasi baru terhadap Qs. Yusuf [12]: 23-31 yang memperhatikan aspek historisitas teks dan menekankan moral ideal yang relevan dengan masyarakat kontemporer. Fokus dari tulisan mencakup: bagaimana wacana diskursif seksualitas perempuan dalam penafsiran Qs. Yusuf[12]:23-31; dan bagaimana pembacaan hermeneutis terhadap Qs. Yusuf [12]: 23-31 tentang seksualitas perempuan.

Tulisan ini merupakan hasil penelitian kualitatif yang bersifat kepustakaan dan dilakukan pada tahun 2019-2020. Sumber primer berupa ayat-ayat al-Qur’an khusunya Qs. Yusuf [12]:23-31 dan kitab-kitab tafsir yang relevan. Sumber sekunder terdiri dari karya yang membahas surah Yusuf, seksualitas perempuan dan penelitian yang terkait. Pengumpulan data dilakukan melalui penentuan ayat, koding penafsiran yang relevan dan klasifikasi sesuai dengan tema yang telah ditetapkan. Data yang sudah diklasifikasi kemudian dianalisis dengan menggunakan teori seksualitas Michel Foucault dan fungsi interpretasi Jorge J.E Gracia.

Wacana diskursif seksualitas perempuan dalam mainstream tafsir bersifat eksklusif gender. Penafsiran terhadap Qs. Yusuf [12]: 23-31, baik pada tafsir klasik maupun kontemporer, didominasi wacana pengetahuan yang patriarki. Kuasa pengetahuan dalam penafsiran tersebut terbangun secara sistematis melalui proses marjinalisasi pengalaman perempuan dalam penafsiran (andosentrime) dan peminggiran metode kontekstual. Proses tersebut pada saat yang sama melahirkan norma yang berfungsi sebagai alat kontrul untuk melanggengkan kuasa pengetahuan tersebut. Salah satu norma yang dominan seperti penggunaan israiliyyat dan kaidah keumuman lafadz, pola komunikasi non-verbal dan paradigma seksualitas yang dianggap tabu. Berdasarkan analisa hermeneutika fungsi interpretasi Jorge J.E Gracia, konteks historis Qs. Yusuf [12]: 23-31 bertujuan meneguhkan hati kaum muslimin dan perintah untuk mengambil pelajaran dari surah Yusuf. Beberapa ide moral dalam ayat tersebut yakni urgensi keimanan sebagai kontrol terhadap tindakan seksual destruktif, pembentukan karakter manusia yang bermoral, menunjukkan hakikat dan subjek seksual, serta laki-laki dan perempuan berpotensi sebagai sumber fitnah. Adapun implikasinya yakni upaya meningkatkan spiritualitas, menegakkan hak asasi manusia dan perlindungan hak seksual yang diakui negara. Interpretasi baru ini menemukan relevansinya dalam konteks Indonesia dalam kerangka transformasi pemahaman agama yang demokratis dan humanis di tengah-tengah masyarakat yang masih menerima pemahaman agama secara dogmatis dan tekstualis.

Published
2021-01-06
How to Cite
Royyani, I., & Rohmaniyah, I. (2021). Wacana Diskursif dan Reinterpretasi Penafsiran Seksualitas Perempuan dalam Qs. Yusuf [12]: 23-31. Ushuluddin International Conference (USICON), 4. Retrieved from http://conference.uin-suka.ac.id/index.php/USICON/article/view/308