KEBEBASAN EKSPRESI KEAGAMAAN DALAM MULTIKULTURALSME LIBERAL BARAT (Paradoks Multikulturalisme dalam Pandangan Slavoj Zizek)

  • Ersa Elfira Khaiya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Abstract

Demokrasi, ideologi yang dipakai di hampir semua negara di dunia memang dianggap sebagai ideologi yang bisa mengakomodir keberagaman dan memiliki visi dalam hal kesejahteraan masyarakat banyak. Demokrasi sering dikampanyekan sebagai suatu kumpulan ide dan prinsip mengenai kebebasan, yang juga mengandung praktek dan prosedur yang telah dibentuk oleh sejarah yang panjang, sehingga hal itu menjadikan demokrasi sebagai sebuah institusi kebebasan. Tentu atas nama kebebasan tersebut lantas banyak hal yang bisa kita lakukan di era demokrasi [bila kita bandingkan dengan era pra-demokrasi atau era otoritarianisme] diantaranya kita bisa melancarkan kritik terhadap penguasa, memilih aliran agama tertentu, memilih bagaimana cara kita berpakaian, memilih  dll. Kedaulatan atas diri kita tidak lagi merupakan milik penguasa, dan penguasa bahkan tidak memiliki hak untuk mengintervensi kita bila kita memilih untuk menjadi seorang transgender dan memilih berpindah agama menjadi Hindu.

Demokrasi memberikan tempat bagi setiap orang untuk menyuarakan ekspresi kebudayaannya dan pendapat pribadinya, maka tidak  heran bila dalam kondisi seperti itu multikulturalisme bisa tumbuh dengan subur. Multikulturalisme merupakan suatu pengakuan tentang pluralitas budaya sehingga menumbuhkan kepedulian pada kelompok-kelompok yang ada agar terintegrasi ke dalam suatu komunitas, dan masyarakat mengakomodir perbedaan budaya kelompok-kelompok minoritas agar kekhasan identitas mereka diakui.

Kesadaran mengenai prinsip multikulturalisme memanglah diperlukan karena dianggap bisa menekan dan meredam konflik antar masyarakat yang sejatinya memanglah plural. Setiap kebudayaan memiliki nilai-nilainya sendiri dan untuk menekan adanya chaos dan menciptakan keteraturan memang harus terdapat negosiasi antara nilai-nilai yang berlaku tersebut. sebab memiliki kekuatan untuk menyatukan keragaman manusia, multikulturalisme lantas menjadi sebuah ideologi yang kita setujui secara bersama dan dinilai sebagai ideologi yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Seruan mengenai pentingnya multikulturalisme seringkali diagungkan hingga sekarang sebagai hal yang positif dan pantas untuk terus dirawat. Benua Eropa sebagai pencetus ideologi ini pun juga kemudian membuka ruang-ruang bagi imigran asing untuk datang dan tinggal di sana dan menjamin keamanan mereka serta mempraktikkan keadilan bagi seluruh manusia yang berada di dalamnya. Indonesia pun melakukan hal yang sama, sebagai negara yang terdiri dari berbagai suku dan ras, Indonesia sejak dulu menggaungkan pentingnya penghormatan kepada mereka yang berbeda latar belakang melalui doktrin yang diberikan sejak kecil melalui pelajaran di sekolah dasar maupun dari iklan di televisi.

Published
2020-11-30
How to Cite
Khaiya, E. E. (2020). KEBEBASAN EKSPRESI KEAGAMAAN DALAM MULTIKULTURALSME LIBERAL BARAT (Paradoks Multikulturalisme dalam Pandangan Slavoj Zizek). Ushuluddin International Conference (USICON), 4. Retrieved from http://conference.uin-suka.ac.id/index.php/USICON/article/view/440