The Indonesian Conference on Disability Studies and Inclusive Education http://conference.uin-suka.ac.id/index.php/icodie <p>The Indonesian Conference on Disability Studies and Inclusive Education (ICODIE) was first held in 2018 in Yogyakarta. The conference is organized annually by Pusat Layanan Difabel (PLD) at UIN Sunan Kalijaga. ICODIE is the first annual conference in Indonesia committed to promoting research on disability studies and inclusive education.&nbsp;</p> en-US maftuhin@uin-suka.ac.id (Arif Maftuhin) icodie@uin-suka.ac.id (Ragil Ristiyanti) Tue, 07 Jul 2020 00:00:00 +0700 OJS 3.1.2.1 http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss 60 Cover, Prelim, Table of Content, Introduction http://conference.uin-suka.ac.id/index.php/icodie/article/view/27 Copyright (c) 2020 http://conference.uin-suka.ac.id/index.php/icodie/article/view/27 Tue, 07 Jul 2020 00:00:00 +0700 Teacher Adaptation in Developing Competencies in Early Childhood Education Unit http://conference.uin-suka.ac.id/index.php/icodie/article/view/5 <p>This qualitative research describes the efforts of a new teacher in an early childhood education unit with special needs in achieving the four competencies of PAUD teachers, including pedagogic, social, professional, and personality. Data collected by interviews, questionnaires, and documentation. The informant was a new teacher at TK ABK Rumah Pintar Salatiga. Data were analyzed descriptively by data reduction, data display, and conclusion drawing. The results show that there are two main efforts made by an ABK teacher in achieving four competencies, namely self-study and consulting with fellow teachers. From the 20 written questions, it was concluded that there were 45% of abilities achieved by self-study, 35% achieved by consulting fellow teachers, and 20% achieved by a combination of both. It implies that even though a new teacher has good individual abilities, she still needs the presence of others who have experienced in educating young children with special needs.<br>[<em>Penelitian kualitatif ini ditujukan untuk mendeskripsikan upaya guru baru di satuan pendidikan anak usia dini (PAUD) berkebutuhan khusus dalam mencapai empat kompetensi guru PAUD, meliputi pedagogis, sosial, profesional, dan kepribadian. Teknik pengumpulan datanya berupa wawancara, kuesioner, dan dokumentasi. Informan penelitian ini adalah guru baru di TK ABK Rumah Pintar Salatiga. Data dianalisis secara deskriptif dengan cara reduksi data, display data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa terdapat dua upaya utama yang dilakukan guru Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) tersebut dalam mencapai empat kompetensi guru, yakni belajar sendiri dan berkonsultasi dengan rekan guru. Dari 20 butir pertanyaan tertulis disimpulkan bahwa 45% kemampuan dicapai dengan belajar sendiri, 35% dicapai dengan konsultasi kepada rekan guru, dan 20% dicapai dengan kombinasi keduanya. Hasil kajian mengimplikasikan bahwa meskipun guru baru memiliki kemampuan individu yang baik, tetap saja ia membutuhkan keberadaan guru lain yang telah terlebih dahulu berpengalaman dalam mendidik anak usia dini berkebutuhan khusus.</em>]</p> M. Agung Hidayatulloh Copyright (c) 2020 http://conference.uin-suka.ac.id/index.php/icodie/article/view/5 Wed, 01 Jul 2020 00:00:00 +0700 Introducing English as a Foreign Language for Autism Children, Why Not? http://conference.uin-suka.ac.id/index.php/icodie/article/view/6 <p>Children with autism tend to have difficulty communicating with others, but their language skills can still develop. This research is a descriptive qualitative study that illustrates English learning activities for autistic students at Talenta Kids School, Salatiga. This school provides educational services for autistic children using comprehensive learning methods and therapeutic methods. There are 7 students in this class but the researchers only focus on 2 students with autism as the object of this study. The learning activities of English students with autism are carried out by applying the Total Physical Response (TPR) method. This method connects vocabulary teaching with action. Data obtained through observation, interviews, and documentation. There are several activities carried out in English learning activities such as introducing simple vocabulary, teaching students to understand and following oral instructions from their teacher using simple English, encouraging students to respond to other people's words and describe something, singing, dancing and playing English games, as well as teaching reading and writing English in a simple way. The results showed that there was high enthusiasm from autistic students when learning English. They are able to respond and communicate well despite some obstacles. In addition, they also become more interested in focusing on their teacher.</p> <p>[<em>Anak-anak dengan autisme cenderung mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dengan orang lain, akan tetapi keterampilan bahasa mereka tetap dapat berkembang. Penelitian ini penelitian kualitatif deskriptif yang menggambarkan kegiatan belajar Bahasa Inggris untuk siswa autis di Talenta Kids School, Salatiga. Sekolah ini menyediakan layanan pendidikan untuk anak-anak autis menggunakan metode pembelajaran dan metode terapi yang komprehensif. Ada 7 siswa di kelas ini tetapi peneliti hanya fokus pada 2 siswa dengan autisme sebagai objek penelitian ini. Kegiatan belajar Bahasa Inggris siswa autis dilakukan dengan menerapkan metode Total Physical Response (TPR). Metode ini menghubungkan antara mengajar kosa kata dengan tindakan. Data didapatkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Ada beberapa kegiatan yang dilakukan dalam kegiatan belajar Bahasa Inggris seperti memperkenalkan kosa kata sederhana, mengajar siswa untuk memahami dan mengikuti instruksi lisan dari guru mereka menggunakan Bahasa Inggris sederhana, mendorong siswa untuk menanggapi kata-kata orang lain dan menggambarkan sesuatu, bernyanyi, menari dan bermain permainan Bahasa Inggris, serta mengajar membaca dan menulis Bahasa Inggris dengan cara yang sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada antusiasme yang tinggi dari siswa autis ketika belajar Bahasa Inggris. Mereka mampu merespon dan berkomunikasi dengan baik walaupun ada beberapa kendala. Selain itu, mereka juga menjadi lebih tertarik untuk fokus pada guru mereka.</em>]</p> Aprilian Ria Adisti Copyright (c) 2020 http://conference.uin-suka.ac.id/index.php/icodie/article/view/6 Wed, 01 Jul 2020 00:00:00 +0700 The Use of Flashcards to Improve Communication Skills http://conference.uin-suka.ac.id/index.php/icodie/article/view/7 <p>The purpose of this research is to test the use of flashcards as a learning media to improve autistic child’s communication ability on using prepositions. The experimental approach was implemented as the research method accompanied by a single subject design (A-B-A-B model). Such a research design was applied to scrutinize the difference in communication skills in the baseline phase from the intervention phase. Further, data was collected by performing observation and performance tests. The locus of research itself was conducted at Talenta Kids Autism School, Salatiga. The results of the study showed the successful use of flashcards as a medium that was able to increase communication skills significantly toward the use of prepositions in an autistic child.</p> <p>[<em>Tujuan penelitian ini adalah pengujian penggunaan media flash card sebagai sarana pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan komunikasi menggunakan kata preposisi pada anak autis. Metode penelitian yang dilakukan menggunakan pendekatan eksperimen dengan single subject design (model A–B-A-B). Rancangan penelitian ini digunakan untuk melihat perbedaan kemampuan komunikasi pada fase baseline dengan fase intervensi. Pengumpulan data dilakukan menggunakan observasi dan tes performance. Lokus penelitian dilakukan di Selolah Autis Talenta Kids Salatiga. Hasil penelitian menunjukkan keberhasilan penggunaan media flash card sebagai perangkat yang mampu meningkatkan kemampuan secara signifikan terhadap komunikasi penggunaan kata preposisi di pada anak autis.</em>]</p> Lilik Sriyanti, Uli Fatwati Copyright (c) 2020 http://conference.uin-suka.ac.id/index.php/icodie/article/view/7 Wed, 01 Jul 2020 00:00:00 +0700 Analisis Asesmen Pendidikan Inklusi untuk Anak Berkebutuhan Khusus http://conference.uin-suka.ac.id/index.php/icodie/article/view/8 <p>Children with special needs have different learning needs than children in general and tend to experience learning disabilities. Therefore, teachers need to conduct appropriate assessments in order to meet the learning needs of each student including students with disabilities. This research is a descriptive qualitative study using content analysis. Data sources used in the form of documents and informants, with the results of the study: 1) Inclusive education based on Permendiknas number 70 of 2009 article one, inclusive education is a system of providing education to all students without exception to participating in education in one educational environment 2) The assessment function in inclusive education is to get students' data used for handling and providing services to special needs students in the learning process. 3) The purpose of the assessment of children with special needs to focus attention by gathering as much information as possible about children's problems (weaknesses) and protective factors (strengths) in the context of screening and diagnosis, evaluation of interventions and research on the assessment activities themselves. 4) Model of implementation of the assessment that we can do include: Baseline Assessment, Progress Assessment, Specific Assessment, Final Assessment, Follow Up Assessment. 5) Steps for conducting an assessment a) Identification, b) Assessment, c) obtained academic data and non-academic, d) Guidelines.</p> <p>[<em>Anak dengan disabilitas memiliki kebutuhan belajar yang berbeda dengan anak pada umumnya dan cenderung mengalami hambatan belajar. Oleh karena itu, guru perlu melakukan asesmen yang tepat agar dapat memenuhi kebutuhan belajar setiap siswanya temasuk siswa dengan disabilitas. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan menggunakan analisis isi. Sumber data yang digunakan berupa dokumen dan informan, dengan hasil penelitian: 1) Pendidikan inklusi berdasarkan Permendiknas nomor 70 tahun 2009 pasal satu, pendidikan inklusi adalah sistem penyelenggaraan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada semua peserta didik tanpa terkecuali untuk mengikuti pendidikan dalam satu lingkungan pendidikan 2) Fungsi asesmen pada pendidikan inklusi untuk mendapatkan data peserta didik yang digunakan untuk penanganan dan pemberian pelayanan pada siswa ABK dalam proses pembelajaran. 3) Tujuan asesmen terhadap anak berkebutuhan khusus untuk memusatkan perhatian dengan menghimpun informasi sebanyak-banyaknya terhadap permasalahan-permasalahan anak (kelemahan) dan faktor protektif (kekuatan) dalam rangka melakukan penyaringan dan diagnosis, evaluasi atas intervensi dan riset terhadap kegiatan asesmen itu sendiri. 4) Model pelaksanaan asesmen yang dapat kita lakukan antara lain: Baseline Asesmen, Progress Asesmen, Spesifik Asesmen, Final Asesmen, Follow Up Asesmen.5) Langkah-langkah untuk melakukan asesmen a) Identifikasi, b) Asesmen, c) diperoleh data akademik dan non akademik, d) Pedoman.</em>]</p> Deby Indriani Rahmawan Copyright (c) 2020 http://conference.uin-suka.ac.id/index.php/icodie/article/view/8 Wed, 01 Jul 2020 00:00:00 +0700 Implementasi Habitual Learning untuk Penyandang Disabilitas Mental di Pondok Pesantren Ainul Yakin Gunung Kidul Yogyakarta http://conference.uin-suka.ac.id/index.php/icodie/article/view/9 <p>This study aims to describe the habitual learning method applied in shaping independent character for children with mental disabilities in Ainul Yakin Islamic Boarding School in Gunung Kidul, Yogyakarta. In providing education on mental disabilities, the Ainul Yakin Islamic Boarding School applies the habitual learning method that can help them live their daily lives independently. Data collected using the method of observation, interviews, and documentation. The result showed that the types of activities which were classified as light but were carried out continuously. One of them is the five-time prayer activity where children are accustomed to being able to stand, sit and prostate independently. all the processes of forming independent characters are carried out using a number of tools and are based on the principles that will be explained in the discussion section. <br>[<em>Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan metode habitual learning yang diterapkan dalam bentuk karakter mandiri bagi anak-anak disabilitas mental di Pesantren Ainul Yakin Gunungkidul Yogyakarta. Dalam memberikan pendidikan terhadap anak disabilitas mental, Pesanten Ainul Yakin menerapkan metode habitual learning yang dapat membantu mereka dalam menjalani kehidupan sehari-hari secara mandiri. Data dikumpulkan dengan menggunakan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis aktivitas yang dijadikan alat pembentuk kebiasaan hanyalah aktivitas-aktivitas yang tergolong ringan namun dilakukan secara terus-menerus. Salah satunya adalah aktivitas salat lima waktu untuk membiasakan anak-anak berdiri, duduk dan sujud secara mandiri. Semua proses pembentukan karakter mandiri tersebut dijalankan dengan menggunakan beberapa alat dan dilandasi pada prinsip-prinsip yang akan diterangkan dalam pembahasan.</em>]</p> <p>Kata kunci: Pembelajaran perilaku; disabilitas mental; Pesantren Ainul Yakin<br>Key words: Habitual learning; mental disability; special education; Islamic Boarding School Ainul Yakin</p> Ahmad Ahnaf Rafif, In'amul Hasan Copyright (c) 2020 http://conference.uin-suka.ac.id/index.php/icodie/article/view/9 Wed, 01 Jul 2020 00:00:00 +0700 Social and Emotional Learning for Disabled Students in Senior High School http://conference.uin-suka.ac.id/index.php/icodie/article/view/10 <p>The purpose of this research is to trace empathy development and Social and Emotional Learning (SEL) when managing disabled student's talent in Senior High School. Empathy has become a core component of the social awareness competency of SEL. SEL belongs to soft skills and non- cognitive skills. This program tries to help disabled students cope with their difficulties by improving skills and talent so it can enhance their confidence and make them feel respected by peers and have a positive relationship with them. This research uses a qualitative interpretive methodology to advocate for the use of managing talent for disabled students in Senior High School. The researcher finds that applying empathy development and Social and Emotional Learning can improve disabled student's talent and prepare them to be succeeded after graduating from Senior High school in college, career, and life.</p> <p><em>Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menggambarkan pentingnya empati serta Pembelajaran Sosial dan Emosional ketika mengelola siswa difabel di SMA. Empati merupakan komponen inti dari kompetensi kesadaran sosial pada Pembelajaran Sosial dan Emosional (SEL). SEL termasuk ketrampilan soft skill dan non-kognitif. Program ini mencoba membantu siswa difabel mengatasi kesulitan mereka dengan meningkatkan ketrampilan dan bakat sehingga dapat meningkatkan kepercayaan diri mereka dan membuat mereka merasa dihargai oleh teman sebaya serta memiliki hubungan yang positif dengan mereka. Penelitian ini menggunakan metodologi interpretatif kualitatif untuk mengadvokasi bakat siswa difabel di SMA. Peneliti menemukan bahwa menerapkan pengembangan empati serta Pembelajaran Sosial dan Emosional dapat meningkatkan bakat siswa difabel di SMA dan menyiapkan mereka agar berhasil sesudah lulus SMA baik di Perguruan Tinggi, karir maupun kehidupan mereka.</em></p> Widyastuti Copyright (c) 2020 http://conference.uin-suka.ac.id/index.php/icodie/article/view/10 Tue, 07 Jul 2020 00:00:00 +0700 The Implementation of Character Education for Children with Special Needs in Inclusive School http://conference.uin-suka.ac.id/index.php/icodie/article/view/15 <p>Character education in the learning process for students with Special Needs (SN) in inclusive schools whose implementation is still unclear. Character education which ideal has given to the students with SN in the learning process must be adjusted to the needs and ability of the children but in reality, it delivered with a classical/uniform approach for all students. The problems are any character problems of students with SN students in inclusive schools, how is the implementation of character education in the learning process, and the solution of the problem of students with SN in inclusive schools? The results of the research were that there are students with SN who have character problems in seven inclusive elementary schools in Surakarta, all schools uniformed the character-education to all of the students, and the solution is applying Behavioral Skill Training (BST) and building strong home-school partnerships to increase the character of students with SN. <br>Pendidikan karakter dalam proses pembelajaran untuk siswa berkebutuhan khusus di sekolah inklusif yang implementasinya masih belum jelas. Pendidikan karakter yang ideal diberikan kepada siswa berkebutuhan khusus dalam proses pembelajaran harus disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan anak-anak tetapi pada kenyataannya itu disampaikan dengan pendekatan klasik/seragam untuk semua siswa. Masalahnya adalah masalah karakter siswa berkebutuhan khusus di sekolah inklusif, bagaimana penerapan pendidikan karakter dalam proses pembelajaran untuk siswa berkebutuhan khusus di sekolah inklusif Surakarta, dan bagaimana solusi untuk mengatasi permasalahan karakter siswa berkebutuhan khusus di sekolah inklusif? Hasil penelitian adalah bahwa ada siswa berkebutuhan khusus yang memiliki masalah karakter di 7 sekolah dasar inklusif di Surakarta dan semua sekolah menyamakan penanaman pendidikan karakter untuk semua siswa, dan perlunya pelatihan perilaku yang berkarakter seperti pelatihan keterampilan perilaku atau Behavioral Skill Training (BST) dan perlunya membangun kemitraan sekolah-rumah yang kuat untuk meningkatkan karakter pada siswa berkebutuhan khusus.</p> Fiola Indah Putri Pratama, Sunardi, Herry Widyastono Copyright (c) 2020 The Indonesian Conference on Disability Studies and Inclusive Education http://conference.uin-suka.ac.id/index.php/icodie/article/view/15 Mon, 13 Jul 2020 20:31:46 +0700 Model Pembelajaran untuk Anak Tunarungu Pada Mata Kuliah Tata Busana http://conference.uin-suka.ac.id/index.php/icodie/article/view/16 <p>This study aims to determine the appropriate learning model applied to Deaf Children in Clothing Courses in the Revolutionary Era 4.0. this type of research is qualitative research. The subjects of the study were the Deaf Students in Akademi Kesejahteraan Sosial AKK (AKS-AKK). Data sources are divided into two primary data and secondary data. For primary data obtained of fashion design lecturers and deaf students. As for secondary data obtained from journals and books that fit the theme of this study. Data collection techniques carried out namely through observation techniques, interview techniques, and documentation. For data collection instruments, the researcher himself uses interview sheets and a camera for documentation. The triangulation technique used in this study is a combination of source triangulation and triangulation technique. Data analysis was carried out through the stages of data reduction, data display, and conclusion. The results of this study are that there are several learning models that can be applied to Deaf Children in Clothing Practice courses, including: 1) the silent demonstration learning model; 2) learning model example non example; 3) critical incident learning model; 4) picture and picture learning models; 5) the Teams Games Tournament (TGT) learning model; and 6) Practice Rehearsal Pairs learning model.</p> <p><em>Penelitian ini bertujuan untuk menentukan model pembelajaran yang tepat diterapkan untuk Anak Tunarungu pada mata kuliah Tata Busana di Era revolusi 4.0. Jenis penelitian ini yakni penelitian kualitatif. Subyek penelitian yakni Mahasiswa Tunarungu Prodi Tata Busana di Akademi Kesejahteraan Sosial “AKK” Yogyakarta (AKS-AKK). Sumber data terbagi terbagi atas dua yani data primer dan data sekunder. Untuk data primer diperoleh dari Dosen Tata Busana dan mahasiswa tunarungu. Sedangkan untuk data sekunder diperoleh dari jurnal dan buku yang sesuai dengan tema penelitian ini. Teknik pengumpulan data yang dilakukan yakni melalui Teknik observasi, Teknik wawancara, dan dokumentasi. Untuk instrumen pengumpulan data yakni peneliti sendiri dengan menggunakan alat bantu lembar wawancara dan kamera untuk dokumentasi. Teknik Trianggulasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah kombinasi trianggulasi sumber dan trianggulasi Teknik. Analisis data dilakukan melalui tahapan data reduction, data display, and conclusion. Adapun hasil dari penelitian ini yakni terdapat beberapa model pembelajaran yang dapat diterapkan untuk Anak Tunarungu pada mata kuliah praktik Tata Busana antara lain: 1) model pembelajaran silent demonstration; 2) model pembelajaran example non example; 3) model pembelajaran critical incident; 4) model pembelajaran picture and picture; 5) model pembelajaran Teams Games Tournament (TGT); dan 6) model pembelajaran Practice Rehearsal Pairs.</em></p> Wahyu Eka Priana Sukmawaty Copyright (c) 2020 http://conference.uin-suka.ac.id/index.php/icodie/article/view/16 Tue, 07 Jul 2020 00:00:00 +0700 Pendidikan Inklusif dalam Surat al-Hujurat Ayat 10-13 dan Surat Abasa Ayat 1-10 http://conference.uin-suka.ac.id/index.php/icodie/article/view/17 <p>In the education aspect of children who appear with a physical difference, abilities and attitudes often get discriminated in the education system. Building tolerance will be effective when through inclusive education in schools. The concept of inclusive education in Islamic teachings is contained in the Quran, which explains that humans on this earth were created with various races, ethnicities, nationalities, genders, religions and different abilities to know, appreciate and respect regardless of differences. In this scientific work the researchers used the library research method by tracing various kinds of references related to the topic of discussion, namely the analysis of the concept of inclusive education in Al-Hujurat Al-Quran verses 10-13 and Abasa verses 1-10 classical and contemporary interpretive perspectives. Inclusive education is an educational process that allows all children to have the opportunity to participate fully in regular activities regardless of racial abnormalities, diversity and other characteristics. Understanding the value of the concept of inclusive education in the Koran can build a social tolerance attitude regardless of differences.</p> <p><em>Pada aspek pendidikan anak yang tampil dengan sebuah perbedaan fisik, kemampuan dan sikap sering kali mendapat diskriminasi dalam sistem pendidikan. Membangun sikap toleransi akan efektif mana kala melalui pendidikan inklusif di sekolah. Konsep pendidikan inklusif dalam ajaran Islam terdapat dalam Al-Quran, yang dijelaskan bahwa manusia di muka bumi ini diciptakan dengan berbagai macam ras, suku, bangsa, gender, keberagamaan dan kemampuan yang berbeda untuk selain mengenal, menghargai dan menghormati tanpa memandang perbedaan yang ada. Dalam karya ilmiah ini peneliti menggunakan metode library research dengan menelusuri berbagai macam rujukan yang terkait dengan topik pembahasan yaitu analisis konsep pendidikan inklusif dalam Al-Quran surat Al-Hujurat ayat 10-13 dan surat Abasa ayat 1-10 perspektif mufassir klasik dan kontemporer. Pendidikan inklusif merupakan proses pendidikan yang memungkinkan semua anak berkesempatan untuk berpartisipasi secara penuh dalam kegiatan reguler tanpa memandang kelainan ras, keberagamaan dan karakteristik lainnya. Dengan memahami nilai konsep pendidikan inklusif dalam Al-Quran dapat membangun sikap toleransi sosial tanpa memandang sebuah perbedaan</em></p> Budi Agus Sumantri Copyright (c) 2020 http://conference.uin-suka.ac.id/index.php/icodie/article/view/17 Tue, 07 Jul 2020 00:00:00 +0700 Dinamika Persebaran CRPD Sebagai Norma HAM Disabilitas di Indonesia http://conference.uin-suka.ac.id/index.php/icodie/article/view/18 <p>Disability has become one of the issues integrated as global human rights instruments in form of the CRPD. Previous studies have highlighted the role of non-state actors in diffusion process of disability norms towards the states. By applying literature study and Risse &amp; Ropp’s (2013) concept of international human rights norm socialization, this article intends to elaborate the dynamics of diffusion of CRPD in Indonesia by focusing on the phases of norm socialization. The author contends that the diffusion process of the convention has somewhat stagnated; therefore, it considers that Indonesia is yet to fully comply with the norms within. The author finds that factors contributing to the stagnate progress are lack of public awareness on disability issue; conflicting regulations; inoptimal implementation and enforcement; amd lack of availability of integrated, accurate, and reliable data on disability.</p> <p><em>Isu disabilitas merupakan salah satu isu HAM global yang sudah diakomodasi dalam konvensi CRPD. Studi terdahulu telah menjabarkan peran aktor non-negara dalam proses persebaran norma disabilitas dalam negara. Dengan menggunakan metode studi pustaka dan teori Risse &amp; Ropp (2013) mengenai sosialisasi norma HAM internasional, artikel ini menggarisbawahi dinamika persebaran konvensi ini di Indonesia dan memfokuskan pembahasan pada fase-fase sosialisasi norma. Penulis berargumen bahwa bahwa proses persebaran CRPD sebagai norma HAM disabilitas di Indonesia telah berkembang namun mengalami stagnasi sehingga belum dapat dikatakan berkomitmen terhadap konvensi. Penulis menyimpulkan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan stagnasi tersebut antara lain lemahnya tingkat kesadaran publik terhadap isu disabilitas; rendahnya peraturan-peraturan yang tumpang tindih; lemahnya praktik implementasi dan penegakan hukum; serta kurangnya ketersediaan data mengenai disabilitas yang terintegrasi, akurat dan reliabel.</em></p> <p>&nbsp;</p> <p>CRPD, disability human right norm, norm socialization, norma HAM disabilitas, sosialisasi norma</p> Ramdan Lamato Copyright (c) http://conference.uin-suka.ac.id/index.php/icodie/article/view/18 Mon, 13 Jul 2020 00:00:00 +0700 Egalitarisme Sosial http://conference.uin-suka.ac.id/index.php/icodie/article/view/19 <p>This study aims to present an analytical perspective from the perspective of moral philosophy (ethics) and public policy on the existence of persons with disabilities in the context of national and state life. As a previous study conducted by Andriani (2016) that in addition to regulatory issues, policies that are responsive to disability at the regional, national and global levels are influenced by social systems and values in society. This research focuses on the moralcompass of the state apparatus in spawning policies about persons with disabilities, especially in paying attention to the social system and values that develop in society. The results of this study will be an academic supplement in addressing people with disabilities so that they are not merely based on mere moral assumptions that contain discriminatory latency. This research is library research with qualitative data analysis methods that refer to Alan Bryman's "analytical induction" model.</p> <p><em>Penelitian ini bertujuan untuk menghadirkan perspektif analitis dari kacamata filsafat moral (etika) dan kebijakan publik tentang eksistensi penyandang disabilitas di dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebagaimana penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Andriani (2016) bahwa selain persoalan regulasi, kebijakan yang responsif terhadap disabilitas di tingkat daerah, nasional dan global dipengaruhi oleh sistem sosial dan nilai dalam masyarakat. Penelitian ini fokus pada moral-compass aparatur negara di dalam menelurkan kebijakan tentang penyandang disabilitas, terutama di dalam memperhatikan sistem sosial dan nilai yang berkembang di masyarakat. Hasil penelitian ini akan menjadi suplemen akademis di dalam menyikapi penyandang disabilitas, sehingga tidak melulu disandarkan pada asumsi moral “belas-kasihan” belaka yang mengandung latensi diskriminatif. Penelitian ini tergolong ke dalam penelitian kepustakaan dengan metode analisis data kualitatif yang merujuk pada model “induksi analitis” Alan Bryman.</em></p> M. Rodinal Khair Khasri Copyright (c) http://conference.uin-suka.ac.id/index.php/icodie/article/view/19 Mon, 13 Jul 2020 00:00:00 +0700 Responsif Disabilitas: Prioritas Kebijakan dalam sebuah Manajemen di Indonesia http://conference.uin-suka.ac.id/index.php/icodie/article/view/20 <p>Individuals with disabilities have problems with the situation of social exclusion that they face, both socially, culturally in the area, public services or even an existing policy. This policy change in favor of people with disabilities necessitates a paradigm shift in the system of social interaction and the values that exist in society. This paper is based on library (library research) with important questions to analyze the history of disability responsive policy management at both the regional and national levels. So, this paper concludes that through the concept of disability friendly, Indonesia has an obligation to fulfill disability rights as a constitutional mandate, as stipulated in the prayers of one regulation, in Law No. 8 of 2016 concerning Persons with disabilities. The aspects of life meant there are no restrictions in fulfilling access to basic services of education, health, transportation, social protection, disaster mitigation, employment and business opportunities, equal legal standing, participation in culture and politics, benefiting in the development of existing information and communication technology and acceptance in society. In practice, persons with disabilities still face obstacles and face challenges in showing off their ability to participate in state life and are hampered by their basic rights.</p> <p><br><em>Individu disabilitas mendapatkan problem dengan situasi eksklusi sosial yang dihadapinya baik secara hidup bermasyarakat, budaya di daerah, layanan publik atau bahkan pada suatu kebijakan yang ada. Perubahan kebijakan yang berpihak pada penyandang disabilitas ini meniscayakan perubahan paradigma dalam sistem interaksi sosial dan nilai yang ada dalam bermasyarakat. Tulisan ini berbasis kepustakaan (library research) dengan memiliki pertanyaan penting guna menganalisis sejarah manajemen kebijakan responsif disabilitas baik tingkat daerah maupun nasional. Sehingga tulisan ini menyimpulkan bahwa melalui konsep ramah disabilitas, Indonesia memiliki kewajiban pemenuhan hak-hak disabilitas sebagai amanat konstitusi, seperti yang telah tertuang dalam salat satu peraturan, dalam Undang-undang No. 8 Tahun 2016 tentang Penyandang disabilitas. Aspek kehidupan yang dimaksud tak ada batasan dalam pemenuhan akses atas layanan dasar pendidikan, kesehatan, transportasi, perlindungan sosial, mitigasi bencana, kesempatan kerja dan berusaha, setara depan hukum, partisipasi dalam budaya dan politik, mendapatkan manfaat dalam pengembangan teknologi informasi dan komunikasi yang ada, serta penerimaan dalam masyarakat. Pada praktiknya, para penyandang disabilitas masih mendapatkan kendala-kendala maupun menghadapi tantangan dalam memamerkan kemampuan yang dimilikinya untuk berpartisipasi dalam kehidupan bernegara dan terhalangi hak-hak dasarnya.</em></p> Putri Maydi Arofatun Anhar Copyright (c) 2020 http://conference.uin-suka.ac.id/index.php/icodie/article/view/20 Mon, 13 Jul 2020 00:00:00 +0700 Tanggung Jawab Negara dalam Mewujudkan Keadilan http://conference.uin-suka.ac.id/index.php/icodie/article/view/21 <p>Justice according to Amartya Sen does not stop at the establishment of a just institution but justice must be realized to the community. Surabaya is the second largest metropolitan city in Indonesia. Various kinds of tribes, characteristics, cultures, classes, groups can be found in Surabaya so that they experience very rapid development in the economic field. However, this cannot be enjoyed by people with disabilities in Surabaya. Infrastructure development has begun to be friendly to people with disabilities but from the educational aspect, there are still many people with disabilities who are illiterate and drop out of school. This study uses descriptive qualitative methods and analyzed using the theory of justice Amartya Sen. The results of this study indicate that the implementation of PKH in Surabaya is a realization of justice for people with disabilities. Seen in the PKH implementation, there are four justice materials for Amartya Sen. There is freedom for PKH recipients to use aid funds. There is the capability of PKH recipients to provide school opportunities for persons with disabilities and the provision of free training from vocational training centers (BLK) for PKH recipient families. There was happiness from PKH recipients because there was no rejection of assistance. Equality can be seen from the provision of assistance tailored to the assets owned.</p> <p>&nbsp;</p> <p><em>Keadilan menurut Amartya Sen bukan berhenti pada pembentukan institusi yang adil namun keadilan harus direalisasikan kepada masyarakat. Surabaya adalah kota metropolitan terbesar kedua di Indonesia. Berbagai macam suku, ciri, budaya, kelas, kelompok terdapat di Surabaya sehingga mengalami perkembangan yang sangat pesat di bidang perekonomian. Namun hal tersebut tidak dapat dinikmati oleh penyandang disabilitas yang ada di Surabaya. Pembangunan infrastruktur memang mulai ramah bagi penyandang disabilitas namun dari aspek pendidikan masih banyak penyandang disabilitas yang buta huruf dan putus sekolah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dan dianalisis menggunakan teori keadilan Amartya Sen. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pelaksanaan PKH di Kota Surabaya merupakan realisasi keadilan bagi penyandang disabilitas. Terlihat dalam pelaksanaan PKH terdapat empat material keadilan Amartya Sen. Adanya kebebasan bagi penerima PKH menggunakan dana bantuan. Terdapat kapabilitas dari penerima PKH memberikan kesempatan sekolah bagi penyandang disabilitas dan pemberian pelatihan gratis dari balai latihan kerja (BLK) bagi keluarga penerima PKH. Adanya kebahagiaan dari penerima PKH karena tidak adanya penolakan bantuan. Kesetaraan terlihat dari pemberian bantuan yang disesuaikan dengan aset yang dimiliki.</em></p> Muvida Kartikasari, Bayu Priambodo Copyright (c) 2020 http://conference.uin-suka.ac.id/index.php/icodie/article/view/21 Mon, 13 Jul 2020 00:00:00 +0700 Pemberdayaan Penyandang Disabilitas Melalui Pelatihan Pembuatan Boneka Bantal untuk Anak Down Syndrome di Desa Panciro http://conference.uin-suka.ac.id/index.php/icodie/article/view/22 <p>One of the efforts to empower people with disabilities is through training in the manufacture of pillow puppet toys. This skills training is able to create a climate that enables the potential of developing communities (enabling), strengthening the potential or power (empowering), and the creation of independence. In addition, this toy doll can be used as a therapeutic medium for children with Down syndrome. Children with Down syndrome have a relatively higher need for hugs and warmth compared to children in general. Cute and soft textured pillow dolls can be used as therapy for children with Down syndrome like character pillow. Therapy using pillow puppet games for children with Down syndrome can stimulate all aspects of the child's potential such as motor aspects, language aspects, cognitive aspects and social aspects. This research was conducted with a qualitative phenomenological approach. Data collected by observation, interview and documentation. The results show that through empowerment through training in making pillow dolls for children with Down syndrome, they are able to build their independence in terms of increasing knowledge, skills and economy by producing various pillow puppet characters.</p> <p><em>Salah satu upaya pemberdayaan masyarakat penyandang disabilitas adalah melalui pelatihan keterampilan pembuatan mainan boneka bantal. Pelatihan keterampilan ini mampu menciptakan iklim yang memungkinkan potensi masyarakat berkembang (enabling), memperkuat potensi atau daya (empowering), dan terciptanya kemandirian. Selain itu, boneka mainan ini dapat dijadikan sebagai media terapi bagi anak down syndrome. Anak down syndrome memiliki kebutuhan akan pelukan dan kehangatan yang relatif lebih tinggi dibandingkan anak-anak pada umumnya. Boneka bantal yang lucu dan bertekstur lembut dapat dijadikan terapi bagi anak down syndrome. Terapi menggunakan media permainan boneka bantal untuk anak down syndrome mampu merangsang seluruh aspek potensi anak seperti aspek motorik, aspek bahasa, aspek kognitif dan aspek sosial. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif fenomenologi. Data dikumpulkan dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasilnya menunjukkan bahwa dengan adanya pemberdayaan melalui pelatihan pembuatan boneka bantal untuk anak down syndrome mampu membangun kemandirian mereka dalam hal peningkatan pengetahuan, keterampilan dan perekonomian dengan memproduksi berbagai karakter boneka bantal.</em></p> Shalsabila Ananda Copyright (c) 2020 http://conference.uin-suka.ac.id/index.php/icodie/article/view/22 Mon, 13 Jul 2020 00:00:00 +0700 DIFALITERA http://conference.uin-suka.ac.id/index.php/icodie/article/view/23 <p>Various methods are used so that literature can be reached by everyone, including those who are blind. Through technology that is increasingly developing at this time, literature is processed into a form of audiobooks (sound books) so that it can be enjoyed by blind people. So, the presence of Difalitera is a breath of fresh air for blind people to be able to enjoy a variety of literature. Difalitera presents literature in children's story models, short stories, short stories, poems, fairy tales and also English lessons for the visually impaired. This study was conducted to find out how literature is processed into an audiobook so that it can be enjoyed by blind people. This field research uses a descriptive qualitative approach, through in-depth interviews from Difalitera's founders and 5 people with Difalitera connoisseurs who are determined based on purposive sampling, the results of the study show that literature plays an important role for visually impaired persons in recognizing literacy. Literature is one form of literacy that is easily understood and understood by everyone and can go with the times. From the research conducted, the presence of Difalitera can provide knowledge to blind people in this millennial era. The development of Difalitera is not limited to literature, but also in other fields of scholarship.</p> <p><em>Beragam cara digunakan agar sastra dapat dijangkau oleh semua orang, termasuk bagi tunanetra. Melalui teknologi yang semakin berkembang saat ini, sastra diolah menjadi bentuk audiobook (buku suara) agar dapat dinikmati oleh tunanetra. Maka, hadirnya Difalitera menjadi angin segar bagi tunanetra untuk dapat menikmati ragam sastra. Difalitera menyajikan sastra dalam model cerita anak, cerkak, cerpen, puisi, dongeng dan juga english lesson bagi tunanetra. Studi ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana sastra diolah menjadi audiobook agar bisa dinikmati oleh tunanetra. Penelitian lapangan ini (field research) menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, melalui wawancara mendalam (in depth interview) dari pendiri Difalitera dan 5 tunanetra penikmat Difalitera yang ditentukan berdasarkan purposive sampling hasil studi menunjukkan bahwa sastra berperan penting untuk tunanetra dalam mengenal literasi. Sastra menjadi salah satu bentuk literasi yang mudah dipahami dan dimengerti oleh semua orang serta dapat mengikuti zaman. Dari penelitian yang dilakukan, hadirnya Difalitera dapat memberikan pengetahuan kepada tunanetra di era milenial ini. Perkembangan Difalitera juga tidak terbatas pada sastra, tapi juga pada bidang keilmuan lainnya.</em></p> Ony Agustin Damayanti Copyright (c) 2020 http://conference.uin-suka.ac.id/index.php/icodie/article/view/23 Mon, 13 Jul 2020 00:00:00 +0700 Proses Othering pada Penyandang Disabilitas di Keraton Yogyakarta http://conference.uin-suka.ac.id/index.php/icodie/article/view/24 <p>Othering, a label for an individual or group that is disregarded and considered different by other societies, becomes one of the anthropological theories in reading disabilities that need to be reviewed for accuracy. This is because not all who are neglected are always in an isolated or marginalized position in society. Through the case of persons with disabilities who are in the Yogyakarta Palace, this study seeks to reconsider how the accuracy of the othering theory for Palawija-Cebolan, a naming for people with disabilities in the Palace? Based on ethnographic fieldwork in the Yogyakarta Palace, this study shows that it is true that the othering process for Palawija-Cebolan meets suitability in terms of the hierarchical structure in the Palace, because of its status as working as a lowerclass official, servant or servant of the palace. However, historically and cosmologically as is the belief and knowledge prevailing at the Palace, the othering label is very problematic considering that Palawija-Cebolan is highly respected, respected, and considered magic, by the king and more broadly, the Keraton environment.</p> <p><em>Othering, sebuah label bagi suatu individu atau kelompok yang diliankan dan dianggap berbeda oleh masyarakat lainnya, menjadi salah satu teori antropologi dalam membaca disabilitas yang perlu ditinjau ulang keakuratannya. Hal ini lantaran tidak semua yang diliankan selalu berada dalam posisi terasingkan atau terpinggirkan di suatu masyarakat. Melalui kasus kaum disabilitas yang berada di Keraton Yogyakarta, studi ini berusaha mempertimbangkan ulang bagaimana akurasi teori othering bagi Palawija-Cebolan, suatu penamaan bagi kaum disabilitas Keraton? Berdasarkan kerja lapangan etnografi di Keraton Yogyakarta, studi ini menunjukkan bahwa memang benar jika proses othering bagi Palawija-Cebolan menemui kesesuaian dari sisi struktur hierarki di Keraton, sebab statusnya bekerja sebagai pejabat golongan rendah, pelayan atau abdi dalem. Namun demikian, secara historis dan kosmologis sebagaimana kepercayaan dan pengetahuan yang berlaku di Keraton, label othering sangat problematik mengingat Palawija-Cebolan sangat diagungkan, dihormati, dan dianggap sakti, oleh raja dan lebih luasnya, lingkungan Keraton.</em></p> Aisyah Nur Amalia Copyright (c) 2020 http://conference.uin-suka.ac.id/index.php/icodie/article/view/24 Mon, 13 Jul 2020 00:00:00 +0700 Am I Excluded Because I am Disabled? http://conference.uin-suka.ac.id/index.php/icodie/article/view/25 <p>To date, social exclusion (ostracism) is a ubiquitous phenomenon happen in life, including to people with disabilities. Although the negative consequences of ostracism has been massively studied, No. study has specifically examined the consequences of ostracism for people with disabilities. The present study primarily focused on investigating how social exclusion can affect the needs level (i.e., belonging, self-esteem, control, and meaningful existence) of people with disabilities. Variables were measured by comparing the scores of needs of people with and without disabilities, before and after exclusion manipulated by online ball-throwing game. Study was an experimental research with a between-subject design. A total of 69 college students were participated in this study. Results showed that exclusion significantly differs the level of belonging, self-esteem, and meaningful existence while disability status only showed significant difference in control variable. Additional result also demonstrated that people with disabilities reported a higher control when being excluded compared to people without disabilities.</p> <p><em>Hingga saat ini eksklusi sosial (ostracism) masih kerap terjadi, tidak terkecuali pada individu penyandang disabilitas. Meski telah banyak penelitian yang menginvestigasi dampak negatif eksklusi pada manusia, studi yang secara spesifik meneliti eksklusi pada individu penyandang disabilitas belum banyak dilakukan. Penelitian ini secara khusus ditujukan untuk mengetahui bagaimana eksklusi sosial memengaruhi aspek tingkat kebutuhan dasar (belonging, self-esteem, control, dan meaningful existence) individu penyandang disabilitas. Variabel tersebut diukur dengan cara membandingkan skor variabel individu non-disabilitas dan penyandang disabilitas sebelum dan sesudah manipulasi eksklusi yang diberikan melalui permainan lempar bola online. Penelitian merupakan penelitian eksperimen dengan between-subject design. Sebanyak 69 mahasiswa secara sukarela berpartisipasi dalam penelitian ini. Hasil menunjukkan bahwa manipulasi eksklusi berhasil secara signifikan memengaruhi variabel belonging, self-esteem, dan meaningful existence sementara disabilitas hanya memiliki pengaruh signifikan terhadap variabel kontrol. Hasil lebih lanjut juga menunjukkan bahwa individu penyandang disabilitas justru memiliki kontrol lebih tinggi ketika dikucilkan secara sosial dibandingkan individu non-disabilitas.</em></p> Widyarta Mega Paramita, , Unita Werdi Rahajeng, Slamet Thohari, Ersa Rizky Riyani, Puspita Kartikasari Copyright (c) 2020 http://conference.uin-suka.ac.id/index.php/icodie/article/view/25 Mon, 13 Jul 2020 00:00:00 +0700