IMPLEMENTATION OF RELIGIOUS MODERATION IN THE INDICATOR OF LOCAL CULTURE'S ACCEPTANCE TOWARDS BANTENGAN CULTURE IN POLOWIJEN
PDF

Keywords

Bantengan
Local Culture
Religious Moderation

Abstract

Indonesia as a multicultural country, often faces challenges in maintaining social balance amidst diverse cultures and religions. Religious moderation, as a key pillar in creating a harmonious society, must involve national commitment, tolerance, an anti-violence stance, and acceptance of local culture. This study focuses on the implementation of religious moderation in the context of local cultural acceptance by examining the Bantengan art form in Polowijen, Malang City. Bantengan is a traditional performance art that combines elements of dance, martial arts, music, and chants with a strong magical ambiance. The research method employed in this study is a qualitative approach using descriptive qualitative methods and literature review. The subject of the study is the community in Polowijen. Data collection techniques involve interviews and literature review. The data obtained from these methods will be analyzed using qualitative data analysis techniques. The findings indicate that the presence of Bantengan reflects a significant acceptance and appreciation of local cultural heritage in harmony with religious values. This study contributes to the understanding of how religious moderation can maintain a balance between cultural preservation and religious practices in a pluralistic society.

PDF

References

Amiruddin, R. (2020). Moderasi beragama dalam masyarakat plural: Tantangan dan peluang. Jakarta: Pustaka Bangsa.

Darmadi. (2011). Metode Penelitian Pendikan. Bandung: Alfabeta.

Devita, Azzahra, dan Salsa Dewi. (2022). Bantengan dengan Segala Keunikan yang Harus

Dilestarikan.

Fadeli, M., Ariyan Alfraita, Aninda Keisha Adelia Wibowo. “Eksistensi Perempuan dalam Pelestarian Budaya Lokal Seni Bantengan di Kecamatan Pacet Mojokerto di Tengah Diterminasi Teknologi Komunikasi.” Seminar Nasional dan Call For Paper 2023 dengan tema" Penguatan Kapasitas Sumber Daya Manusia Menuju Indonesia Emas 2045" PSGESI LPPM UWP. Vol. 10. No. 1. 2023.

Fahri Mohammad, dan Ahmad Zainuri. (2019). Moderasi Beragama di Indonesia. Jurnal Intizar, Vol. 25, No. 2.

Fauzan, A. (2021). Tantangan keberagaman budaya di Indonesia: Perspektif moderasi beragama. Bandung: Alfabeta.

Haryanto, B. (2023). Dinamika sosial-keagamaan di Indonesia: Tantangan dan solusi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Iskandar, I. (2023). Moderasi beragama sebagai landasan keberagaman di Indonesia. Jakarta: Rajawali Pers.

Jumadi. 2024. “Bantengan di Polowijen”. Hasil Wawancara Pribadi: 20 Agustus 2024, Polowijen, Malang.

Kiftiyah, Anifatul. (2023). Moderasi Beragama di Tengah Isu Kontemporer.

Lukman, Hakim S. (2019). Tanya Jawab Seputar Moderasi Beragama. (Jakarta Pusat: Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama).

Mestika, Z. (2008). Metode Penelitian Kepustakaan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Mulyadi, A. (2021). Kearifan lokal dalam arus modernisasi: Sebuah kajian etnografi. Bandung: Mizan. Munawwir, Ahmad Warson. (2020). Kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia Terlengkap, Edisi Ketiga. Surabaya: Pustaka Progresif.

Nasution, A., & Aziz, F. (2021). Intoleransi dan polarisasi sosial di Indonesia. Medan: Universitas Sumatera Utara Press.

Rahman, A. (2021). Pendekatan seimbang dalam moderasi beragama. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.

Rahayu, T. (2021). Harmoni dalam keberagaman: Moderasi beragama di Polowijen. Malang: Universitas Brawijaya Press.

Rohman, M. (2020). Bantengan: Kearifan lokal dalam moderasi beragama. Malang: UIN Maulana Malik Ibrahim Press.

Santoso, H. (2021). Moderasi beragama: Pilar keberagaman dan harmoni sosial. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Setiawan, T. (2022). Kearifan lokal dan penerapannya dalam masyarakat Polowijen. Malang: Universitas Negeri Malang Press.

Suryadi, H. (2022). Toleransi dan harmoni sosial: Studi kasus di Polowijen. Yogyakarta: LKiS.

Utami, Muherni Asri, and RR Roosita Cindrakasih. "Struktural Functionalism sebagai Proses Transmisi Kesenian Bantengan Kota Batu." Jurnal Komunikasi Nusantara 5.2 (2023): 284-293.

W. Isa., 2024 “Polowijen dan Kampung Budaya”. Hasil wawancara pribadi: 23 Agusus 2024, Kampung Budaya Polowijen.