Interaksi Digital sebagai Alternatif Pembelajaran Bagi AUD Berkebutuhan Khusus di RA Ulumul Qur’an Al Madani Banjarbaru
##plugins.themes.academic_pro.article.main##
Abstract
Interaksi antara guru dan peserta didik merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam
kegiatan belajar mengajar. Bagi peserta didik berkebutuhan khusus, interaksi mempunyai
peranan vital dalam mendorong kemampuan, keterampilan dan kepercayaan diri peserta didik
secara matang. Pendidikan inklusi menjadi wadah yang saat ini dipandang visioner untuk
membangun sistem interaksi yang positif melalui komunikasi, modeling hingga prinsip
pengajaran diferensiasi atau berdasar kebutuhan peserta didik. Dalam keseharian di RA Ulumul
Qur’an Al Madani, partisipasi aktif dari setiap peserta didik normatif maupun berkebutuhan
khusus menjadi pondasi dasar dalam menciptakan sebuah sistem yang menginternalisasikan
nilai-nilai kebaikan pengajaran seperti sikap saling menghargai, tidak diskriminatif,
penerimaan, toleransi, kerjasama/ kolaborasi melalui peer teaching, akomodatif dan
menghidupkan otak sosial atau sikap empati antar individu. Selama terjadinya situasi pandemi
tahun lalu, peserta didik mengalami gap dalam loose teaching yang menyebabkan keharusan
mereka untuk melaksanakan pembelajaran melalui sistem daring. Interaksi yang selama ini
berjalan secara langsung melalui pengalaman dalam rentang pembelajaran yang menyatu,
konkrit dan learning by doing lainnya digantikan sementara waktu oleh interaksi yang bersifat
digital, dimana pembelajaran terjadi secara tidak langsung melalui platform digital dan
transmisi komunikasi yang juga tidak senatiasa luwes. Interaksi digital bagi anak berkebutuhan
khusus memangkas lebih banyak ruang dalam latihan, menanamkan kesan dan mengasah
kemampuan bersosialiasi mereka di lingkungan yang inklusif. Interaksi digital memberikan
pilihan yang cukup bias bagi sebagian peserta didik. kendati demikian, ketidakpuasan terhadap
hasil dari proses interaksi digital ini dirasakan oleh orang tua dengan peserta didik
berkebutuhan khusus. Ruang yang sebenarnya ingin menjadi praktek pengayaan tentang
implementasi sikap kecakapan sosial, belajar nilai emosi-perilaku yang baik hingga
kemandirian hanya terdapat pada wadah yang menghadirkan figur/ sosok guru dan teman
sebaya secara riil. Oleh sebab itu, interaksi digital pada konteks ini dianggap sebagai sarana
kompensatoris/ alternatif pendamping pembelajaran.